Melanjutkan sesuatu yang sudah dimulai memang mudah diucapkan, tapi tidak selalu mudah dijalani.
Tahun 2021 menjadi tahun ujian batin yang baru.
Setelah resmi dilantik sebagai CPNS di akhir 2020, kini aku masuk ke fase Latsar CPNS—masa intensif, penuh disiplin, dan adaptasi.
Aku ditugaskan di lingkungan baru, di kota yang belum pernah benar-benar kukenal, bahkan tidak ada satu pun orang yang kukenal di sana. Setiap hari adalah perkenalan ulang, penyesuaian, dan belajar dari awal.
Di saat aku masih mencari irama baru sebagai ASN, timeline media sosial mulai penuh dengan foto-foto wisuda.
Teman-teman satu per satu lulus dari S2.
Beberapa bahkan mengenakan selempang cumlaude, selempang yang dulu juga aku targetkan sejak awal masuk S2.
Ada rasa iri, ada rasa menyesal.
"Seandainya aku lebih fokus dulu…"
"Mungkin aku bisa seperti mereka, berdiri di antara wisudawan, disaksikan keluarga, dan mengenakan toga kebanggaan."
Tapi di tengah gelombang pikiran itu, aku belajar untuk berdamai dengan diri sendiri.
Aku berkata dalam hati:
“Aku mungkin tertinggal dalam wisuda, tapi aku tidak tertinggal dalam perjuangan.”
Karena kenyataannya, aku juga sedang menyelesaikan sesuatu yang tak kalah besar.
Desember 2020 aku mendapat SK CPNS, dan tahun 2021, aku menerima SK PNS—yang artinya, aku sudah resmi 100% sebagai ASN.
Itu adalah pencapaian yang tak bisa dikecilkan.
Bukan keberuntungan semata, tapi hasil dari doa, kerja keras, dan keberanian untuk bertahan di tengah ketidakpastian.
Dan meski belum menyelesaikan S2 saat itu, aku tahu diriku masih layak untuk bangga.
Karena:
Aku sudah berdiri di ruang kelas sebagai guru, yang beberapa teman lain menginginkan posisi ini.
Aku sudah punya dua publikasi ilmiah yang lahir dari perjuangan akademik yang tidak mudah.
Aku sedang membangun dampak nyata, bukan hanya menyusun rencana.
Aku belajar bahwa waktu orang lain bukan ukuran keberhasilanku.
Allah memberi setiap orang waktu yang berbeda, jalur yang berbeda, dan cerita yang berbeda pula.
Dan dalam ceritaku, semua ini bukan keterlambatan. Tapi penguatan.
Dan seperti biasa, Allah selalu tahu kapan harus membiarkan kita tertinggal…
Agar kelak saat kita sampai di garis akhir, kita bisa bersyukur dua kali lebih dalam.
0 Komentar