Akhir 2021, setelah sekian lama menanti sejak dinyatakan lolos, akhirnya PPG resmi dimulai.
Bukan PPG dalam jabatan seperti guru pada umumnya, tapi PPG prajabatan—program pendidikan profesi guru untuk mereka yang seharusnya belum menjadi guru.
Rasanya campur aduk.
Di satu sisi, senang, karena akhirnya aku bisa menjalani program yang dulu sempat tertunda. Walaupun sudah berstatus sebagai guru penuh, aku masih punya kesempatan mengikuti PPG prajabatan, menambah ilmu dan legalitas profesi.
Tapi di sisi lain, ada rasa sedih yang tak bisa kuabaikan.
Kampus penyelenggara PPG adalah kampus di kota yang sangat nyaman dan dulu sempat menjadi kota impianku—kota tempat aku menempuh S2, kota yang penuh kenangan dan cita-cita. Tapi kini aku hanya bisa mengikuti perkuliahan secara online, dari jauh, dari ruang kerja atau rumah, bukan dari aula atau ruang kelas kampus itu.
Aku melihat beberapa teman PPG, yang belum terikat pekerjaan, bisa menikmati hari-hari mereka di kota itu. Mereka hadir langsung di kampus, menikmati suasana belajar, menyerap pengalaman, bahkan membentuk komunitas baru.
Sementara aku… harus membagi waktu antara tugas PPG dan tanggung jawab sebagai guru.
PPG bukan hal yang ringan.
Ada setumpuk tugas, laporan, perangkat ajar, dan video pembelajaran yang harus disiapkan.
Ada malam-malam panjang saat mata dipaksa terjaga karena deadline.
Ada hari-hari ketika tubuh lelah di kelas, tapi pikiran masih harus siap menghadapi penilaian, refleksi, dan revisi tugas daring.
Dan semuanya harus dijalani sambil terus menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang masih relatif baru.
Tapi satu hal yang terus kupegang sejak awal:
“Allah tidak akan memanggilku sejauh ini hanya untuk membuatku berhenti di tengah.”
Pelan-pelan, satu per satu tugas diselesaikan.
Satu per satu ujian dilewati.
Dan akhirnya, Desember 2022, aku menyelesaikan seluruh rangkaian PPG.
Bukan hanya selesai, tapi juga dengan perasaan lega dan syukur yang tak terbendung.
Perjalanan ini panjang dan berliku.
Tidak selalu seperti harapan.
Tidak seindah skenario yang dulu dibayangkan.
Tapi justru di sanalah letak keindahannya:
Allah menyisipkan hikmah di sela-sela rasa lelah, menyelipkan pembelajaran di tengah keterbatasan.
dan yang tampak berat ternyata adalah jalan menuju kemenangan.”
0 Komentar