Ketika semua pilihan butuh ditegaskan

Tahun 2023 datang dengan ultimatum yang tak bisa diabaikan:

“Selesaikan sekarang… atau dianggap mengundurkan diri.”

Itu bukan sekadar peringatan administratif. Itu adalah pertaruhan—bukan hanya soal gelar, tapi soal harga diri dan janji yang pernah kubuat pada diri sendiri.
Janji bahwa aku tidak akan berhenti sebelum selesai. Bahwa aku akan menyelesaikan apa yang telah aku mulai.

Aku mulai merenung, 
Lalu aku teringat pada satu hal yang dulu memotivasiku untuk berjuang:
kampus dan kota ini bukan hanya impianku—mungkin ini juga impian orang tuaku.

Aku teringat wajah mereka saat pertama kali mendengar aku diterima di kampus itu.
Terbayang bagaimana mereka bercerita ke saudara dan tetangga tentang anaknya yang kuliah S2.
Dan aku sadar—kelulusan ini bukan tentang ijazah semata, tapi tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Akhirnya, aku kembali membuka dokumen tesis yang lama tertutup.
Kutatapnya, bukan lagi dengan beban, tapi dengan tekad untuk menuntaskan amanah.
Bukan sekadar untuk diriku sendiri, tapi sebagai bentuk cinta dan penghormatan untuk mereka yang selalu mendoakan di balik layar.

Namun, seperti kisah sebelumnya, jalannya tidak pernah mudah.

Langkah pertama saja sudah cukup berat:
Menebalkan muka untuk kembali menghubungi dosen pembimbing.
Dosen yang dulu sempat kupamitkan diri dalam diam. Dosen yang sabar menunggu tanpa kabar.
Rasanya seperti datang sebagai tamu yang telah lama lupa jalan pulang.

Lalu masuk ke tahap yang lebih teknis—penelitian dan olah data statistik.
Aku harus kembali mempelajari metode penelitian, mencari referensi, membuka ulang file-file lama, dan menyatukan potongan-potongan materi kuliah yang berserakan.
Semua harus dikumpulkan kembali dalam kondisi yang sudah sangat berbeda dari masa perkuliahan dulu.
Di sela mengajar, menyusun perangkat ajar, dan rutinitas ASN, aku harus menghidupkan kembali identitas diri sebagai mahasiswa.

Dan bukan hanya itu.
Ada hal-hal non-teknis yang tak perlu kuceritakan, tapi cukup membuat langkah terasa lebih berat.
Ujian yang datang bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam: pikiran yang lelah, rasa malu, keraguan, dan pertanyaan, “Masih layakkah aku lulus?”

Tapi dalam kondisi seperti itu, aku kembali belajar bahwa tidak semua proses perlu terlihat kuat.
Kadang, kita hanya perlu terus melangkah. Sekalipun goyah. Sekalipun lambat.

Akhirnya, dengan jatuh bangun, semua proses itu mengantarku kembali ke kota tempat kuliah, kota yang dulu jadi impian dan saksi banyak proses hidupku.
Aku menyelesaikan tahap akhir finishing naskah tesis di kota itu, sambil sekaligus merefresh hati dan pikiran—seolah sedang memberi jeda sebelum garis akhir.

Dan akhirnya…
Sidang tesis berhasil kulalui di bulan Juli 2023.
Yudisium di bulan September 2023.
Dan wisuda pada Desember 2023.

Aku berdiri di antara para wisudawan lain. Tapi bukan sekadar untuk menerima ijazah.
Aku berdiri di sana sebagai seseorang yang tahu apa arti bertahan.
Bukan karena aku yang paling cerdas.
Bukan karena jalanku paling lurus.
Tapi karena Allah tak pernah benar-benar melepaskanku, bahkan saat aku hampir menyerah.

Dan di momen itulah, aku benar-benar paham makna dari semua ini:

Terkadang kamu tidak selalu dipercepat… tapi kamu selalu dipastikan sampai.

Posting Komentar

0 Komentar