Tahun 2025 menjadi babak baru yang sama sekali berbeda.
Tahun pertama pernikahan.
Dan seperti banyak hal yang baru pertama kali dijalani, ternyata tidak ada yang benar-benar mudah.
Menyatukan dua insan bukan hanya soal tinggal bersama, tetapi tentang dua cara berpikir, dua kebiasaan, dua cara memandang hidup yang perlahan harus belajar berjalan seirama. Ada hari-hari penuh tawa, ada pula hari-hari yang sunyi karena masing-masing masih belajar memahami. Adaptasi menjadi kata kunci—dan belajar menjadi proses yang tidak pernah selesai.
Kami memulai semuanya dari tempat yang sangat sederhana: sebuah petak kos-kosan kecil.
Ruangnya sempit, kadang terasa sesak oleh barang-barang yang tak seberapa jumlahnya, namun tetap terasa penuh. Bukan tidak mencoba mencari tempat lain, tetapi selalu saja tidak menemukan yang benar-benar cocok—entah karena jarak, biaya, atau rasa “belum pas”.
Hingga akhirnya, sekali lagi, Allah menghadirkan bantuan dari arah yang tak terduga.
Orang tua memberi pertolongan untuk memiliki rumah sendiri. Tidak besar, tidak mewah, tetapi cukup. Cukup untuk pulang, cukup untuk tumbuh, cukup untuk membangun keluarga kecil. Dan di titik itu aku belajar: bersyukur bukan tentang besar-kecilnya, tetapi tentang cukup atau tidaknya.
Namun hidup tidak pernah berjalan satu arah.
Cobaan lain datang—lebih sunyi, lebih dalam.
Kami pernah diberi harapan untuk menambah anggota keluarga. Harapan itu tumbuh, menghangatkan, lalu… tidak sampai ke ujung. Kehilangan pertama yang melibatkan rasa, doa, dan tindakan medis yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Menghadapinya berdua, jauh dari keluarga, mengandalkan satu sama lain—itu tidak mudah. Harus kuat, meski kadang tidak tahu caranya.
Ya, ada banyak yang peduli. Rekan kerja, kenalan, orang-orang baik di sekitar.
Tapi tetap saja, rasanya berbeda. Ada luka yang hanya bisa dipahami oleh yang menjalaninya.
Berada di lingkungan baru pun masih menjadi proses. Rasa was-was sering muncul, bahkan pada hal-hal yang seharusnya bisa disikapi dengan biasa saja. Namun mungkin inilah bagian dari belajar dewasa—belajar tenang, belajar percaya, belajar menyerahkan.
Dan di tahun ini aku kembali memahami satu hal penting:
Allah tidak selalu memberi perjalanan yang mudah, tetapi selalu memberi kekuatan yang cukup.
Jejak-jejak itu mungkin tidak terlihat oleh banyak orang.
Namun bagi kami, setiap langkahnya bermakna.
0 Komentar