Awal tahun 2020, dunia berubah. Pandemi Covid-19 datang tanpa aba-aba, membawa kegelisahan bagi semua orang, termasuk diriku.
Segala rencana yang sudah tersusun rapi tiba-tiba berantakan.
Saat itu aku sedang bersemangat mengumpulkan data lapangan untuk bahan publikasi S2. Namun, semua kegiatan lapangan dihentikan. Kampus menutup akses, pertemuan ditiadakan, dan seluruh aktivitas akademik dialihkan secara online. Di sisi lain, tes CPNS yang sudah lama kutunggu juga ditunda tanpa kepastian waktu, dan PPG yang seharusnya segera dimulai belum jelas kapan akan terlaksana.
Semua terasa menggantung — tidak ada yang pasti selain rasa cemas.
Namun di balik kekacauan itu, ternyata Allah mulai menyiapkan sesuatu yang tak pernah kupikirkan.
Ketika semuanya beralih menjadi online, muncul secercah harapan: aku punya peluang untuk menjalani ketiganya — S2, CPNS, dan PPG — secara bersamaan, karena semuanya tidak lagi menuntut kehadiran fisik.
Tentu saja, pandemi tetap bukan hal yang mudah. Saat masih berada di sekitar kampus, pembatasan begitu ketat. Aktivitas keluar rumah dibatasi, bahkan untuk sekadar mencari bahan penelitian pun harus penuh kehati-hatian. Ketika akhirnya memutuskan pulang ke rumah, aku pun harus menjalani isolasi mandiri sebelum benar-benar bisa berkumpul dengan keluarga.
Ritme belajar daring pun sangat berbeda dengan tatap muka. Tidak mudah menjaga semangat ketika layar laptop menjadi satu-satunya jendela dunia. Namun di tengah semua keterbatasan itu, aku tetap berusaha menjalani setiap proses dengan sabar.
Dan ternyata, Allah tidak menyia-nyiakan usaha itu.
Selama masa pandemi, aku berhasil mempublikasikan satu artikel ilmiah dan menyeminarkan satu artikel lainnyayang masih menunggu kepastian terbit.
Lalu di akhir tahun, setelah sekian lama menunggu, kabar baik akhirnya datang: tes terakhir CPNS resmi dilaksanakan, dan tak lama kemudian — tepat pada 31 Desember 2020 — aku dilantik sebagai CPNS.
Pandemi memang ujian besar, tapi di dalamnya Allah sisipkan jalan bantuan.
Kadang, sesuatu yang tampak menghambat justru menjadi pintu yang membuka banyak kemudahan.
Dan dari situlah aku belajar: bahwa pertolongan Allah bisa datang dalam bentuk yang tak selalu menyenangkan — tapi selalu tepat waktu.
0 Komentar