Ketika tidak semua harus sesuai rencana

Tahun 2024, aku mulai melangkah dengan perasaan lega—bukan karena segalanya sempurna, tapi karena semua hutang janji pada diri sendiri akhirnya lunas.

S2 telah selesai.
PPG telah tuntas.
Status sebagai guru dan ASN pun sudah kukantongi.

Aku akhirnya bisa mengatakan, “Aku sudah sampai di titik ini, meski jalannya tidak mudah.”

Namun saat akhirnya tiba di garis itu, aku justru menyadari satu hal yang diam-diam menyelinap:
perasaan tidak puas.

Bukan karena tidak punya apa-apa, tapi karena apa yang kudapat tidak persis seperti yang kuimpikan dulu.

Tempatku bekerja saat ini bukanlah tempat yang dulu masuk dalam daftar impian.
Bukan kota favorit, bukan sekolah unggulan, bukan pula pekerjaan yang banyak dibicarakan orang.

Tapi bukankah ini yang perlu disyukuri?
Di tengah sulitnya lapangan kerja, aku punya tempat untuk mengabdi.
Di tengah banyaknya orang yang masih mencari arah, aku sudah punya jalur yang jelas.

PPG juga selesai—walau bukan dengan banyak pujian atau prestasi mentereng. Hanya cukup dengan kalimat: “Yang penting lulus.”
S2 pun mentok di dua publikasi, dan mimpi menambah satu buku serta satu publikasi lagi harus dikubur dalam-dalam.
Selempang cumlaude pun tak pernah kusampirkan di pundak saat wisuda.

Dan di sanalah aku mulai belajar...
Bahwa selama ini mungkin aku terlalu sibuk membandingkan, terlalu sibuk melihat rumput tetangga yang tampak lebih hijau,
sampai lupa bahwa halaman sendiri pun sebenarnya sudah tumbuh indah—hanya saja belum benar-benar kulihat dengan syukur.

Lalu datanglah sebuah kesadaran baru:
Kalau semua ini bukan tentang pencapaian lagi… tapi tentang penerimaan.
Bukan soal apa yang bisa kita raih di luar, tapi apa yang bisa kita jaga di dalam.

Maka perjalanan baru pun mulai kupikirkan.
Tujuan baru, langkah baru, niat baru.
Tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun bagaimana semuanya terjadi,
cukup aku tahu bahwa di akhir tahun ini, di bulan Desember sekali lagi, Allah melancarkan sesuatu yang luar biasa:
Dia menyempurnakan separuh dari agamaku.

Bukan prestasi akademik, bukan gelar baru, bukan jabatan tinggi—
tapi hadiah kehidupan yang tak kalah agung:
pendamping hidup yang InsyaAllah akan membersamai perjalanan berikutnya.

Dan saat itu aku sadar…

Ketika Allah bersamamu, Dia tahu kapan harus membuatmu berlari…
kapan harus membuatmu berhenti,
dan kapan harus mengirim seseorang yang siap berjalan bersamamu.

Karena perjalanan tidak selalu tentang pencapaian besar.
Kadang, pencapaian sejati adalah ketika hati bisa berkata:
“Aku cukup.”

Posting Komentar

0 Komentar