Menengok ke belakang, aku hanya bisa menarik napas panjang dan mengucap satu kata: “Alhamdulillah.”
Perjalanan ini, dari Part 1 hingga Part 8, bukanlah kisah yang lurus dan mulus.
Ia dipenuhi oleh jalan memutar, tanjakan, persimpangan, bahkan jalan buntu yang sempat membuatku ragu untuk melanjutkan.
Tahun 2014, aku memulai segalanya dengan gagal di SNMPTN dan SBMPTN, lalu masuk lewat jalur mandiri di jurusan yang awalnya tak begitu kuinginkan.
Semester awal kulalui dengan nilai C dan keinginan menyerah. Tapi perlahan, aku bangkit, mencintai apa yang kupelajari, dan memperbaiki semuanya.
Tahun 2015, aku kembali gagal di SBMPTN, namun akhirnya memilih untuk menuntaskan yang sudah dimulai dan mulai menemukan kepercayaan diri.
2018, aku gagal CPNS tapi diberi jalan ke Pare, dan akhirnya melanjutkan S2 di kota impian.
Perjalanan S2 pun bukan kisah ideal: target publikasi tak sepenuhnya tercapai, semangat naik turun, dan dunia terhenti oleh pandemi.
Tapi justru karena pandemi, aku bisa tetap kuliah, menjalani PPG, dan akhirnya diangkat sebagai ASN 100%.
Di antara kesibukan Latsar dan adaptasi kerja, aku mulai merasa cukup—meski sebenarnya belum selesai.
Hingga akhirnya di 2023, aku menuntaskan S2 dengan penuh perjuangan, tidak dengan gemerlap, tapi dengan kepuasan batin yang dalam.
Dan pada Desember 2024, Allah menutup semua itu dengan karunia yang tak bisa dihitung dengan angka: disempurnakannya separuh agama.
Semua itu membuatku sampai pada satu kesimpulan:
Bahwa tidak semua pencapaian harus besar untuk berarti.
Tidak semua keberhasilan harus mendapat tepuk tangan untuk layak disyukuri.
Kadang, hanya kita yang tahu betapa berharganya momen-momen kecil:
Bangkit dari gagal.
Kembali menghubungi dosen meski malu.
Menyusun tesis di tengah jadwal mengajar.
Memilih bersyukur, meski impian tidak persis tercapai.
Menerima tempat kerja yang bukan prioritas, tapi menjadi ladang pengabdian.
Dan mengucap ijab di hadapan saksi dengan hati yang tenang.
Tahun 2025 dan Seterusnya…
Aku tidak tahu akan jadi apa diriku nanti.
Apakah akan menulis buku seperti dulu kuimpikan.
Apakah akan meraih gelar lanjutan.
Apakah akan berpindah tempat, berubah jabatan, atau tetap di sini.
Tapi kini aku tahu, aku tak harus membuat dunia bertepuk tangan untuk merasa berhasil.
Karena ada pencapaian-pencapaian sederhana yang tetap terasa megah di hati sendiri:
Membuat satu murid tersenyum dan mengangguk paham di kelas.
Menyusun satu artikel yang tak banyak dibaca, tapi tulus ditulis.
Mengerjakan tugas dengan sebaik mungkin, meski tak selalu diberi penghargaan.
Menyelesaikan hari dengan tenang dan tetap mengingat Allah.
Menjadi pendengar yang baik di rumah.
Menjadi hamba yang tidak banyak menuntut, tapi terus berusaha.
Itu semua tidak tercantum dalam portofolio.
Tapi tercatat di tempat yang lebih tinggi.
Dan pada akhirnya, aku hanya ingin menjadi orang biasa yang tetap merasa cukup karena tahu bahwa...
Kamu tak perlu hebat di mata orang.
Kamu hanya perlu berarti di tempat yang seharusnya.
0 Komentar