Tahun 2014 adalah awal dari perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku duduk di depan layar komputer, menatap hasil SNMPTN yang hasilnya adalah kata “maaf” bukan kata “selamat”, tapi aku tidak menyerah karena masih ada teman dan kesempatan lain untuk berjuang. Dan aku tidak menyia-nyiakan waktu dengan belajar sungguh-sungguh untuk menghadapi SBMPTN tetapi hasilnya masih sama. Semua kampus dan program studi impian telah kuupayakan, namun semuanya berkata: gagal. Hati ini remuk, semangat seolah runtuh.
Tapi Allah punya cara-Nya sendiri. Beberapa waktu kemudian, dengan hanya beberapa jam aku mendapat kabar tentang jalur mandiri dan karena hari terakhir pendaftaran maka dengan bismillah memutuskan mencoba peruntungan di tempat yang bukan pilihan utama, akhirnya aku diterima lewat jalur mandiri di Prodi Pendidikan Matematika—jurusan yang sebenarnya bukan pilihan utama. Tidak ada kebanggaan, hanya keraguan dan rasa kalah. Aku masuk kuliah, tapi hati masih bertanya, "Benarkah ini jalanku?"
Semester pertama dan kedua berjalan seperti mimpi buruk. Empat nilai C menghiasi transkripku. Aku ingin menyerah. Rasanya tidak ada semangat untuk melanjutkan. Namun, dalam titik terendah itu, aku belajar untuk merenung lebih lama.
Tahun 2015, aku mencoba peruntungan terakhir: ikut SBMPTN sekali lagi. Tapi jawaban-Nya tetap sama. Gagal. Kali ini bukan tangisan yang datang, tapi sebuah keputusan: "Aku akan menyelesaikan yang telah dimulai ini. Di sini aku akan berdiri, dan dari sini aku akan melangkah."
Titik balik itu mengubah segalanya. Aku mulai menerima jurusan ini sepenuh hati. Aku mulai menemukan rasa percaya diri, bahkan mulai mencintai dunia pendidikan. Aku menyibukkan diri dengan aktivitas positif—bergabung di beberapa organisasi kampus, aktif di himpunan, menyibukkan diri di sela-sela libur—semuanya kulakukan agar tak ada ruang tersisa untuk hal-hal negatif.
Empat nilai C yang dulu menghantuiku? Aku ambil ulang satu per satu. Dan Allah beri aku kekuatan untuk mengubahnya menjadi tiga nilai A dan satu B. Satu demi satu rintangan kulalui dengan keyakinan: Allah bersamaku.
Saat skripsi menghampiri, aku dibuat kagum oleh begitu banyak tangan yang terulur untuk membantuku. Dosen pembimbing yang sabar, teman-teman yang memberi dukungan, dan keluarga yang tak henti berdoa. Allah mengirimkan bantuan di setiap sudut perjalanan.
Dan akhirnya, di hari kelulusan itu, aku berdiri mengenakan toga dengan senyum penuh haru. Di tangan kugenggam ijazah dan di bahu tersampirkan selempang bertuliskan: “Lulus dengan pujian.”
Hari itu aku sadar, gagal di awal bukan berarti gagal di akhir. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan di saat terkelam sekalipun. Hanya saja, kadang kita perlu jatuh agar belajar untuk berjalan, perlu tersesat agar tahu jalan pulang, dan perlu kecewa agar tahu bagaimana bersyukur.

0 Komentar